Olyvia Ririmasse, seorang dosen tetap dari Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) ini berhasil membuktikan bahwa jarak, waktu, dan tantangan budaya akademik bukanlah penghalang untuk mendapatkan akses pendidikan lebih tinggi.
Olyv, sapaan akrab nya, resmi menjadi lulusan pertama dari program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya.
Perjalanan Panggilan Jiwa
Bagi Olyv, dunia pendidikan bukanlah hal baru. Selama 15 tahun, ia telah mendedikasikan dirinya sebagai dosen di Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UKIM.
Keputusannya mengambil Doktor Ilmu Manajemen dengan konsentrasi utama Leadership and Management di UK Petra, Surabaya bukanlah tanpa alasan. Reputasi akademik prestigious dan nilai-nilai Kristiani yang kuat menjadi magnet utama bagi dosen yang hobi membaca itu.
“Menjadi lulusan pertama di Doctoral ini merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa. Saya merasa bersyukur karena boleh menjadi bagian dari sejarah UK Petra,” ungkap Olyv dengan penuh syukur.
Berani Keluar dari Zona Kenyamanan, Berani Bertumbuh
Perjalanan meraih gelar doktor tentu tidak dilalui dengan mudah. Olyv mengakui bahwa ia harus beradaptasi dengan kultur akademik UK Petra yang sangat kompetitif khususnya dalam hal riset dan publikasi.
“Tantangan terbesar adalah proses adaptasi dengan kultur akademik UK Petra yang memiliki tradisi riset dan standar publikasi yang sangat kuat. Proses ini menuntut saya untuk keluar dari zona nyaman, meningkatkan kapasitas berpikir kritis, serta membangun budaya kerja ilmiah. Bukan hanya ilmu pengetahuan, UK Petra membentuk ketekunan dan kedisiplinan saya,” jelas perempuan yang pernah mendapat hibah Penelitian Fundamental tahun 2025 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) itu.
Berkat manajemen waktu yang ketat dan komitmen penuh, Olyv berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu sesuai kurikulum. Ia menekankan bahwa dukungan keluarga, institusi asal (UKIM), dan pembimbing di UK Petra menjadi pilar keberhasilannya.
Dari Sustainable ke Regenerative Tourism
Olyv membawa misi besar bagi tanah kelahirannya, Maluku. Fokus risetnya bukan lagi sekadar pariwisata berkelanjutan (sustainable), melainkan pariwisata regeneratif. Ia ingin pariwisata tidak hanya “tidak merusak”, tetapi justru memulihkan.
“Secara sederhana, sustainable tourism bertujuan agar pariwisata tidak merusak, sedangkan regenerative tourism bertujuan agar pariwisata memulihkan dan meningkatkan. Kita ingin membuat alam, budaya, dan masyarakat menjadi lebih sehat daripada sebelum pariwisata hadir,” papar Olyv.
Salah satu inovasi yang ia usung dalam penelitiannya adalah digitalisasi Sasi, kearifan lokal Maluku dalam menjaga ekosistem, melalui storytelling digital. Ia percaya bahwa wisatawan milenial dan Gen-Z butuh narasi yang autentik tentang makna spiritual dan ekologis dari sebuah destinasi.
Kini, Olyvia Ririmasse kembali ke Maluku dengan bekal ilmu dan semangat baru. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa dedikasi yang dibarengi dengan kerendahan hati untuk terus belajar akan membuahkan hasil yang berdampak luas bagi masyarakat. (Aj/Mel)



